Sejak masuk smp, wajah saya yang beda tipis sama shahrukh khan selalu dimirip miripkan dengan orang india atau arab. padahal setahu saya, saya tidak mempunyai leluhur orang Arab, India, pakistan, ataupun Bangladesh. Tapi tetap saja orang orang, terutama yang baru kenal terheran heran karena saya bisa berbahasa indonesia, bahasa sunda bahkan makan singkong! padahal 100% made in indonesia, mas.

Emang dari segi karakter wajah, hidung saya lebih mancung beberapa senti dari mayoritas orang indonesia yang hampir semuanya pesek. Dan kalo diperhatikan, bentuk kepala saya agak gimana gitu kayak orang timur tengah, hanya postur tubuh yang kecil dan warna kulit saja tidak mendukung untuk lebih dimirip miripkan dengan yang mereka sangka.

Ada juga kejadian gak enak ketika berbelanja di toko arab, ketika sedang transaksi dengan sang penjaga kasir. Si pemilik toko yang turunan arab asli nyletuk, atau lebih tepatnya berteriak :

“Ente turunan Arab, ya?”

“Bukan, Pak. Saya orang sunda”

“Ane gak percaya, ente pasti turunan arab. Yah, mbak. liat aja mukanya dia pasti turunan arab (Sambil ngomong ke pembeli lain)”

“Buset dah, ancur nih muka gue,” langsung sajah setelah menerima kembalian saya kabur.

Atau pernah lagi ketika sedang berbelanja di toko khusus pakaian muslim yang pemiliknya turunan arab pula, seorang ibu-ibu tiba tiba nanya gini :

“A, ini harganya berapa”

“Maaf, bu. sebelah sana. Bukan ke sayah”

“Maaf, Kirain”

Dikira saya penjaga toko apa..

Maka dari pengalaman pengalaman itu ketika terpaksa berbelanja di toko arab. saya sebisa mungkin tidak masuk kedalam toko. Diam menunggu saja diluar, biar istri yang memilih, membayar dan lainnya. Itupun kadang kadang yang punya toko nyeletuk.

“teh, suaminya orang arab purwakarta ya?”

“bukan, dia asli orang subang”

“oo.. arab subang”

Ha ha ha,  Sebel.

Memang di Purwakarta – Jawa Barat, banyak banget turunan arab. Khususnya daerah pasar Rebo dan sekitarnya ,  leluhur seluruh penduduk keturunan Arab di itu konon berasal dari Yaman Selatan. Orang menyebutnya dengan Hadramaut.

Melalui jalan perdagangan, leluhur mereka sampai ke tanah Jawa, setelah berdagang di Gujarat (India) hingga ke Selat Malaka. Dari situlah, kebiasaan dan tradisi serta syiar agama Islam menyebar.

Warga keturunan Arab di Purwakarta, menurut Ustadz Salim As-Segaf (Tokoh Purwakarta), sudah bukan asli Arab lagi. Mereka adalah peranakan campuran antara ayah asal Yaman dan ibu asli pribumi. Sebab, para pedagang kala itu menjelajahi negeri tanpa membawa istri.

Hingga kini, kata dia, warga keturunan Arab di Purwakarta berjumlah sekitar 4.000-5000 orang. Mereka terdiri dari beberapa suku/marga. Yang terbanyak adalah marga Bajri, jumlahnya diperkirakan 85 persen. Selebihnya adalah marga Zaidi (Hilabi), Alatas, Aljufri, Alhabsyi, Assegaf, Alhadad, Alhadar, Assa’dy, Joban, dan Alidrus.

Mereka kini tinggal bersama di kampung yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Arab. Kampung itu terletak di Jalan Kapten Halim, Kelurahan Nagri Kidul, Puiwakarta. Kalo dari kontrakan saya, tinggal jalan kaki 2 menit, he.he.

Referensi : prom here